Seorang perempuan berumur 17 tahun telah menyukai seorang laki-laki yang
sangat kebetulan adalah temannya dikala ia masih kecil. Perempuan ini
bernama Via, parasnya sangat cantik sekali dengan rambut terurai tebal
lembut sekali. Sedangkan laki-laki bernama Adi, penampilannya rapi
meskipun tampangnya biasa-biasa aja. Dahulu mereka sering bertengkar,
entah rambutnya via yang terkulai bebas tersebut dijambak oleh adi.
Yaa..mereka berdua tidak bisa disatukan lagi bahkan guru pendampingnya
pun menyerah menghadapi tingkah adi dan via yang semakin membabi buta.
Emang sih masa-masa itu adalah masa anak-anak yang ingin bermain dan
bertengkar.
Sering
dengan pergantian waktu, hari, bahkan bulan mereka berdua tumbuh
remaja. Namun ketika duduk dibangku SMA mereka terpisahkan. Adi pergi
jauh sekolah ke luar negeri, dia mengikuti ayahnya yang bekerja disana.
Perpisahan mereka tidak dilakukan, hal ini dikarenakan kepergian adi
terlalu cepat sehingga tidak bisa berpamitan dengan via. 3 tahun sudah
berlalu, via selalu menunggu kedatangan sahabat terbaiknya “adi”
sepanjang masa. Sungguh keterlaluan adi tidak memberikan sedikit kabar
tentang dirinya kepada via. Bahkan seolah-olah adi sudah melupakan
kedekatannya dengan via sewaktu kecil.
Suatu ketika via duduk di tepi sungai dengan merenung berharap setelah
dia menoleh ke belakang ada Adi sedang berdiri di belakangnya.
“via...via..” panggilan itu sangat keras sekali perasaan via tidak
karuan senangnya tetapi setelah menoleh kebelakang ternyat sofi teman
sebangkunya. “kamu ngapain disini vi?” tanya sofi. Via hanya diam
terpaku begitu saja. Meskipun via tidak menjawabnya sofi pun tahu kalu
dia sedang menunggu cinta monyetnya. Hehehe.. sofi menyebut kisah dari
via ini dengan cinta monyet. Dengan penuh rasa sayang saofi mendekati
teman sebangkunya itu, “sudahlah vi, adi itu temanmu di waktu kecil jadi
wajarlah kalau dia disana pasti sudah punya teman-teman baru lagi”.
Dengan raut wajah yang sedih, via membenarkan perkataan sofi. Walaupun
sangat sulit untuk melupakan adi dia akan berusaha demi hidupnya yang
harus berjalan terus menerus.
Semuanya telah dilakukan sangat baik oleh via, dia benar-benar sudah
melupakan sahabatnya. Disaat dia sudah melupakannya adi sahabat karibnya
pulang ke Indonesia, memang benar semua yang di katakan sofi dia lupa
akan dirinya. Via mengira kepulangan sahabatnya itu bersama dengan
perempuan asing dari luar negeri, ternyata dugaanku semua itu tidak
benar. Adi pergi bersama sofi teman sebangku via. Tega sungguh sangat
tega, meskipun sudah diperlakukan demikian via masih saja berpikiran
positif dia masih bersikap baik sama adi dan sofi. Yang membuat via
sagat sedih dan menyesal adalah pernah mengan adi dan sofi yang sangat
begitu baik kepadanya, tidak itu saja adi selama ini tidak menyadari
keberadaanku dan perubahan sikapku ke dia. Sudahlah, mungkin ini semua
memang takdir dan sudah jalan dari yang Kuasa.
Via akan selalu mengenang kebersamaan sewaktu kecil meskipun mereka
berdua sering saja bertengkar tapi pertengkaran itu malah yang membuat
via mulai jatuh cinta pada pandangan pertama.
Minggu, 09 Maret 2014
CINTAKU UNTUKNYA
“Wanda gwa pengen ketemu ma elo jam 14.00 siang ini di taman deket sekolah,deket air mancur ya!.
By sesil”
“Wan ,elo punya masalah apa ma sesil ?” Tanya seorang pria berseragam yang baru masuk ke ruang kelas.
“kagak ,emang kenapa ?”Tanya wanda bingung.
“Sesil ngajakin elo ketemuan siang ini juga dan yang paling parah lagi ajakan itu di tulis di mading”.
“Masa sih ?”.Wanda terlihat cuek.
“Ya udah elo liat aja”. Wanda pun beranjak dari bangkunya dan pergi menuju mading sekolah bersama tian temanya itu, tak ama kemudian merekapun sampai di depan mading sekolah yang telah dikerumi oleh murid murid.Wanda merasa heran dan dia pun mengeluarkan sebuah phonsel dari dalam kantong celananya.
“Non kamu lagi ma sesil gak” ? ( isi pesan singkat yang ditujukan kepada noni teman satu sekolahnya ,noni juga adalah teman baik sesil).
Di sisi lain sesil ,noni , lulu, mia sedang berkumpul. Tiba tiba ponsel noni berbunyi dan di ambilah ponselnya dari dalam tas dan terlihat di layar ponsel tertulis pesan dari wanda, noni tak menghiraukan pesan dari wanda dan menaruh kembali hpnya kedalam tas.
“sms dari siapa non ? kok gak di bales ?.”Tanya sesil pada noni.
“Adik gwa minta di beliin coklat pulang nanti!”.Jawab sesil terlihat sedikit grogi karena telah brebohong.
“Sil elo serius mau nembak wanda ?”. Tanya lulu.
“Ya iya lah ,soalnya gwa bener bener suka ma dia”.
“Emangnya elo gak malu apa ?”.Mia ikut ikutan berbicara sedangkan noni terlihat lesu.
“Kenapa harus malu ?”. jawab sesil enteng sambil tersenyum bahagia.
“Gimana kalo elo di tolak ? secara ,dia tu kan bisa di bilang cowok terkeren di sekolah kita ini!”. Tanya lulu kembali.
“Gak tau !”.Jawab sesil pelan dan terlihat sedikit melemah.
“Bener tu gimana kalo elo di tolak mentah mentah ! elo tu selalu nekat ya !”.Ceplos mia.Noni masih terlihat diam.
“Ah, kenapa kalian pada ngomong gitu !”.Sesil terlihat lesu.
“eh sory, gwa gak maksud ngomong gitu”. Sahut mia sambil menempelkan tangan nya di mulut.
“Non ko diem aja ? Apa pendapat elo dengan tindakan konyol sesil?”.Tanya mia pada noni yang masih diam.
“Aku gak punya pendapat apa apa, buat aku selama tindakan sesil bisa buat dia bahagia aku akan setuju aja”. Jawab noni sambil sedikit tersenyum.
“I love you noni!”.teriak sesil pada noni dengan raut wajah gembira.
Noni tersenyum .Noni mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya dan tiba tiba membalas pesan singkat dari wanda.
“Tolong jaga perasaan sesil”.( Pesan yang di kirim pada wanda).
Orang orang yang mengerumuni mading terllihat sudah pergi dan hanya ada wanda dan tian saja. Pesan dari noni telah di terima wanda. Wanda langsung mengambil ponselnya dan langsung membukanya. Wajah wanda terlihat bingung setelah menerima pesan dari noni lalu di balasnya kembali pesan tersebut.
“Apa maksudnya non ?”isi pesan wanda pada noni.
Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi nyaring,
“Cabut yuk ian!”.ajak wanda pada tian sembari menunggu balasan pesan dari noni). Wanda dan tian mulai pergi menuju ruang kelasnya. Wanda masih menunggu balasan pesan dari noni yang sampai kegiatan belajar masih juga belum ada balasan.
Setelah cukup lama berada di ruang kelas bel istirahat berbunyi para murid pergi untuk istirahat begitu pula wanda, tian ,sesil, noni, mia dan lulu.
“Guys kita istirahat di samping lapang olah raga aja ya!”.ajak sesil kepada temanya.
“Kayak biasa ke kantin dulukan “.Ucap lulu sambil melihat wajah sesil.
“Ya ia lah kaya biasa aja”.Jawab sesil sambil pergi meninggalkan ruang kelasnya.
“Sil gwa mau ke toilet dulu ,kalian duluan aja ya !”.Ucap noni sambil pergi meninggalkanmereka.
“Jangan lama lama ya!”.teriak sesil pada noni. Noni menoleh sambil mengacungkan jempol tangan nya.
Merekapun be pisah ,noni pergi ke toilet sedangkan yang lainnya pergi ke kantin untuk membeli beberapa makanan. Sepulang dari toilet noni bertemu wanda tapi noni pura pura tak melihatnya, wanda teriak memanggil nama noni tapi noni tak menghiraukanya. Wanda berlari mengejar noni dan nonipun terkejarnya.
“hei kenapa gak nunggu aku padahal dari tai aku teriak teriak manggil nama kamu”. ucap wanda sambil tersenyum.
“sory gwa gak denger!”. jawab sesil judes sambil pergi. Wanda menghalau noni untuk pergi.
“ Kenapa sih ,kamu kok berubah banget semenjak aku pindah sekolah ke ini”.
Noni masih berusaha pergi meninggalkan wanda dan tak menghiraukan pertanyaannya. Wanda memegang tangan noni dan menariknya pergi.
“Loe mau bawa gwa kemana wan?”. Tanya noni sambil berusaha melapaskan tanganya dari cengkraman wanda.
“Gwa pengen ngomong sesuatu sama elo tapi gak di sini”.
“Kenapa berubah?, kenapa dia manggil gwa dengan kata lo padahal biasanya kamu !”.Ucap noni dalam hati.
“Ya tapi gak usah tarik tarik segala dong!”
Wanda tak menghiraukan ucapan noni sampai akhirnya mereka sampai di suatu tempat yang tak banyak di kunjungi murid murid. Wanda masih memegang tangan noni.
“Lo mau ngomong apa?”. Teriak noni pada wanda.
Wanda menatap wajah noni dan masih memegang tannganya.”lo kenapa ? “.Tanya wanda sambil melepaskan cengkraman tanganya.
“kenapa apanya maksud lo ?”. Tanya noni pura pura tak mengerti sambil mengelus elus tanganya.
“Kenapa semenjak gwa pindah sekolah ke sini lo berubah ,lo susah banget di hubungi ,gwa juga susah ketemu ama lo, kenapa lo ngindar terus dari gwa dan yang paling bikin gwa sakit hati kenapa lo tiba tiba mutusin hubungan kita tanpa sebab kalau gwa punya salah tolong ngomong non ?”.Tanya wanda seewot.
Noni terdiam dan menundukan kepalanya.”kenapa tiba tiba gwa pengen nangis kaya gini”.ucap noni dalam hati.
“Non tolong jawab pertanyaan gwa “.
“Gwa kan udah bilang gwa udah gak suka lagi ma lo!”.jawab noni sambil menahan tangisan.
“Tapi kenapa tiba tiba gitu, kalau gwa punya salah yang udah bener bener nyakitin hati lo gwa minta maaf”.
“kalau kamu ingin tahu sebenernya aku masih sayang makamu tapi sekarang aku gak bisa kaena sesil juga suka ma kamudan aku bingung wan, aku sayang ma kamu tapi aku juga gak mau ngeliat sesil sedih”. kata noni dalam hati.
“Kenapa lo diem aja ? lo masih sayangkan ma gwa ,non !”
Noni menarik napas panjang.”Gwa suka ma cowok lain”.
Deg ..!,Wanda terlihat kaget dan terdiam sejenak mendengar jawaban noni.”o....! jadi karena itu”. Mata wanda terlihat memerah menahan tangisan.
“Ya ,ekarang lo puas !”.Kata noni yang langsung pergi meninggalkan wanda sambil mengeluarkan air mata yang dari tadi ingin di keuarkanya.
Wanda masih terlihat kaget dan masih diam.
Noni berlari menuju lapang olah raga sambil mengelap air matanya.
“Itu noni!”. Ucap lulu sambil menunjuk ke arah noni.
“Non ko lama banget ke airnya, jangan jangan lo tidur ya ?”. Ucap mia jail.
Noni hanya tersenyum.,sesil memperhatikan wajah noni,
“Kamu habis nangis ya non?”. Ceplos sesil dan yanng lain pun langsung menatap wajah noni.
“Kagak, emang keliatan abis nangis gitu ?”.Kata noni seperti yang tak terjadi apa apa
“ya,soalnya mata loe keliatan merah sih!”. Ucap sesil .
“Tadi gwa kelilipan jadinya mata gwa merah kayak gini”. Kata noni sambil tersenyum.
“o.........!”.Kata sesil singkat, dan merekapun langsug melanjutkan perbincangannya tanpa menghiraukan kembali mata noni. Beberapa menit kemudian noni bertanya pada sesil.
“Sil lo bener bener suka ya sama wanda ?”.Tanya noni pelan.
“Yups, gwa suka pada pandangan pertama,”. Jawab sesil sambil tertawa kecil,
“O.........!
“Kenapa ?”
“Gak kenapa napa ko!”.Ucap noni sambil tersenyum.
“Loh kok ?”.Sesil terlihat bingung. Cukup lama mereka biristirahat bel masuk telah berbunyi.
“Bel udah bunyi tuh, masuk yuk !”. ucap noni .
Mereka pun pergi menuju kelasnya, Sesil terlihat bahagia sedangkan noni terlihat murung dan semangat belajarnya menghilang.
13.45 tandanya kegiatan belajar telah selesai dan murid muridpun berhamburan keluar sekolah untuk pulang kerumahnya masing masing.
“Gwa deg degan”. Ucap sesil sambil memasukan buku pelajaran ke dalam tasnya.
“Semangat sesil”. Ucap mia .
“Kita bakalan nemeni lo ko ya kan non!”. Kata lulu sambil melihat noni yang hanya tersenyum melihatnya.
“Apa yang harus aku lakukan ?”. ucap noni dalam hati.
“Ya udah kita langsung ketaman aja !”. Ajak lulu pada sesil dan yang lainya, dan merekapun langsung pergi ,karena jaraknya tak terlalu jauh merekapun telah sampai di taman.
“Guys gwa rapi gak ? Gwa grogi ni !”. Ucap sesil yang tak bisa diam.
“Sip, tenang aja kita bakalan ada nemeni lo,”.ucap mia menenangkan sesil.
“Eh wanda udah dateng tuh”.Ucap lulu dan pandangan merekapun menuju wanda begitupula pandangan noni.
“Ya tuhan kuatkan hati hamba!”kata noni dalam hati.
“Sil bururan pergi!”. kata lulu sambil mendorong sesil.
Sesilpun pergi menemui wanda, dan akhirnya mereka berdua bertemu.
“Hai wan ?”.Ucap noni mendahului pembicaraan.
Wanda tersenyum jutek,”Lo mau ngomong apa ma gwa?”. Ucap wanda sambil melihat keadaan sekitar ,secara tidak di sengaja wanda melihat noni dan yang lain sedang memperhatikan mereka di dekat semak semak yang jaraknya tak jauh dari air mancur. Noni dan yang lainya terlihat kaget dan merekapun bersembunyi kecuali noni yang masih kaget tapi lulu langsung menarik noni untuk bersembunyi.
“Kenapa wan ?”.Tanya sesil.
“Ah gak apa apa”. Jawab wanda sambil tersenyum dan tiba tiba sikap wanda menjadi berubah yang tadinya jutek sekarang jadi ramah.”Tadi lo mau ngomong apa ya ?”.Tanya wanda sambil trsenyum pada sesil.
“wanda ganteng banget pa lagi kalo senyum!” ucap sesil dalam hati.
“Hei, ko ngelamun gitu?” ucap wanda sambil melambaikan tangannya di depan wajah sesil.
“O ...!, sory sory, ini gwa, emmmm !!!!!”
“Gwa suka ama lo !”.Ucap wanda tanpa basa basi.
Sesil terkaget,”Serius lo suka ama gwa !
“Ya!”Ucap wanda singkat yang langsung memeluk sesil.”Noni maafin gwa tapi gwa juga gak mau sakit ati Cuma gara gara lo!”.ucap wanda dalam hati.
Di sebrang sana terlihat mia, lulu bahagia sedangkan noni terlihat sedih.
“Sesil di peluk !”.Kata lulu gembira pada mia.
“kenapa gwa jadi lemes gini ! kenapa tulang di kaki gwa terasa hilang,kenapa mata gwa jadi terasa panas gini, kenapa ???”.ucap noni dalam hati dengan keadaan mata yang berkaca kaca. Tiba tiba noni berlari meninggalkan mereka,
“Lu noni mau kemana tu ?”.Tanya mia pada lulu.
“Ya mana gwa tau!”.
“Kejar yuk “.Ajak mia yang langsung lari mengejar noni laludi ikuti lulu.
“Noni kemana mi?”.Tanya lulu sambil melihat keadaan sekitar mencari cari noni.
“Gak tau, gwa sms aja ya !”.Saat mia mengambil ponsel dari dalam tasnya tiba tiba ponselnya berbunyi dan di lihat noni mengirimkan pesan.
“mi, sory gwa pulang duluan coz gwa sakit perut.”
“ok gak apa apa ko.”nanti gwa kesana y.
“Noni pulang duluan katanya dia sakkit perut”.Ucap mia.
“ko lo tau ?”.
“Barusan dia sms gwa.”
“O.....! tinggal kita berdua dong !,makan yuk gwa laper ni.”
“Ok !!!”.
Di tempat yang berbeda noni sedang menangis sambil duduk lemas.
“kenapa hati ini sakit, padahal seharusnya gwa senenng dengan semuanya, kenapa, kenapa ?”.Noni menaik napas panjang sambil mengelap air mata yang tak henti mangalir di matanya.
“Noni , sebentar lagi lo ujian dan setelah lulus lo bisa pergi keluar kota dan tak melihat mereka lagi, tenang dan terus semangat”. Ucap noni sambil menyemangati dirinya sendiri.
By sesil”
Sebuah tulisan dalam kertas yang di tempel di sebuah mading sekolah menengah atas.
“Wan ,elo punya masalah apa ma sesil ?” Tanya seorang pria berseragam yang baru masuk ke ruang kelas.
“kagak ,emang kenapa ?”Tanya wanda bingung.
“Sesil ngajakin elo ketemuan siang ini juga dan yang paling parah lagi ajakan itu di tulis di mading”.
“Masa sih ?”.Wanda terlihat cuek.
“Ya udah elo liat aja”. Wanda pun beranjak dari bangkunya dan pergi menuju mading sekolah bersama tian temanya itu, tak ama kemudian merekapun sampai di depan mading sekolah yang telah dikerumi oleh murid murid.Wanda merasa heran dan dia pun mengeluarkan sebuah phonsel dari dalam kantong celananya.
“Non kamu lagi ma sesil gak” ? ( isi pesan singkat yang ditujukan kepada noni teman satu sekolahnya ,noni juga adalah teman baik sesil).
Di sisi lain sesil ,noni , lulu, mia sedang berkumpul. Tiba tiba ponsel noni berbunyi dan di ambilah ponselnya dari dalam tas dan terlihat di layar ponsel tertulis pesan dari wanda, noni tak menghiraukan pesan dari wanda dan menaruh kembali hpnya kedalam tas.
“sms dari siapa non ? kok gak di bales ?.”Tanya sesil pada noni.
“Adik gwa minta di beliin coklat pulang nanti!”.Jawab sesil terlihat sedikit grogi karena telah brebohong.
“Sil elo serius mau nembak wanda ?”. Tanya lulu.
“Ya iya lah ,soalnya gwa bener bener suka ma dia”.
“Emangnya elo gak malu apa ?”.Mia ikut ikutan berbicara sedangkan noni terlihat lesu.
“Kenapa harus malu ?”. jawab sesil enteng sambil tersenyum bahagia.
“Gimana kalo elo di tolak ? secara ,dia tu kan bisa di bilang cowok terkeren di sekolah kita ini!”. Tanya lulu kembali.
“Gak tau !”.Jawab sesil pelan dan terlihat sedikit melemah.
“Bener tu gimana kalo elo di tolak mentah mentah ! elo tu selalu nekat ya !”.Ceplos mia.Noni masih terlihat diam.
“Ah, kenapa kalian pada ngomong gitu !”.Sesil terlihat lesu.
“eh sory, gwa gak maksud ngomong gitu”. Sahut mia sambil menempelkan tangan nya di mulut.
“Non ko diem aja ? Apa pendapat elo dengan tindakan konyol sesil?”.Tanya mia pada noni yang masih diam.
“Aku gak punya pendapat apa apa, buat aku selama tindakan sesil bisa buat dia bahagia aku akan setuju aja”. Jawab noni sambil sedikit tersenyum.
“I love you noni!”.teriak sesil pada noni dengan raut wajah gembira.
Noni tersenyum .Noni mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya dan tiba tiba membalas pesan singkat dari wanda.
“Tolong jaga perasaan sesil”.( Pesan yang di kirim pada wanda).
Orang orang yang mengerumuni mading terllihat sudah pergi dan hanya ada wanda dan tian saja. Pesan dari noni telah di terima wanda. Wanda langsung mengambil ponselnya dan langsung membukanya. Wajah wanda terlihat bingung setelah menerima pesan dari noni lalu di balasnya kembali pesan tersebut.
“Apa maksudnya non ?”isi pesan wanda pada noni.
Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi nyaring,
“Cabut yuk ian!”.ajak wanda pada tian sembari menunggu balasan pesan dari noni). Wanda dan tian mulai pergi menuju ruang kelasnya. Wanda masih menunggu balasan pesan dari noni yang sampai kegiatan belajar masih juga belum ada balasan.
Setelah cukup lama berada di ruang kelas bel istirahat berbunyi para murid pergi untuk istirahat begitu pula wanda, tian ,sesil, noni, mia dan lulu.
“Guys kita istirahat di samping lapang olah raga aja ya!”.ajak sesil kepada temanya.
“Kayak biasa ke kantin dulukan “.Ucap lulu sambil melihat wajah sesil.
“Ya ia lah kaya biasa aja”.Jawab sesil sambil pergi meninggalkan ruang kelasnya.
“Sil gwa mau ke toilet dulu ,kalian duluan aja ya !”.Ucap noni sambil pergi meninggalkanmereka.
“Jangan lama lama ya!”.teriak sesil pada noni. Noni menoleh sambil mengacungkan jempol tangan nya.
Merekapun be pisah ,noni pergi ke toilet sedangkan yang lainnya pergi ke kantin untuk membeli beberapa makanan. Sepulang dari toilet noni bertemu wanda tapi noni pura pura tak melihatnya, wanda teriak memanggil nama noni tapi noni tak menghiraukanya. Wanda berlari mengejar noni dan nonipun terkejarnya.
“hei kenapa gak nunggu aku padahal dari tai aku teriak teriak manggil nama kamu”. ucap wanda sambil tersenyum.
“sory gwa gak denger!”. jawab sesil judes sambil pergi. Wanda menghalau noni untuk pergi.
“ Kenapa sih ,kamu kok berubah banget semenjak aku pindah sekolah ke ini”.
Noni masih berusaha pergi meninggalkan wanda dan tak menghiraukan pertanyaannya. Wanda memegang tangan noni dan menariknya pergi.
“Loe mau bawa gwa kemana wan?”. Tanya noni sambil berusaha melapaskan tanganya dari cengkraman wanda.
“Gwa pengen ngomong sesuatu sama elo tapi gak di sini”.
“Kenapa berubah?, kenapa dia manggil gwa dengan kata lo padahal biasanya kamu !”.Ucap noni dalam hati.
“Ya tapi gak usah tarik tarik segala dong!”
Wanda tak menghiraukan ucapan noni sampai akhirnya mereka sampai di suatu tempat yang tak banyak di kunjungi murid murid. Wanda masih memegang tangan noni.
“Lo mau ngomong apa?”. Teriak noni pada wanda.
Wanda menatap wajah noni dan masih memegang tannganya.”lo kenapa ? “.Tanya wanda sambil melepaskan cengkraman tanganya.
“kenapa apanya maksud lo ?”. Tanya noni pura pura tak mengerti sambil mengelus elus tanganya.
“Kenapa semenjak gwa pindah sekolah ke sini lo berubah ,lo susah banget di hubungi ,gwa juga susah ketemu ama lo, kenapa lo ngindar terus dari gwa dan yang paling bikin gwa sakit hati kenapa lo tiba tiba mutusin hubungan kita tanpa sebab kalau gwa punya salah tolong ngomong non ?”.Tanya wanda seewot.
Noni terdiam dan menundukan kepalanya.”kenapa tiba tiba gwa pengen nangis kaya gini”.ucap noni dalam hati.
“Non tolong jawab pertanyaan gwa “.
“Gwa kan udah bilang gwa udah gak suka lagi ma lo!”.jawab noni sambil menahan tangisan.
“Tapi kenapa tiba tiba gitu, kalau gwa punya salah yang udah bener bener nyakitin hati lo gwa minta maaf”.
“kalau kamu ingin tahu sebenernya aku masih sayang makamu tapi sekarang aku gak bisa kaena sesil juga suka ma kamudan aku bingung wan, aku sayang ma kamu tapi aku juga gak mau ngeliat sesil sedih”. kata noni dalam hati.
“Kenapa lo diem aja ? lo masih sayangkan ma gwa ,non !”
Noni menarik napas panjang.”Gwa suka ma cowok lain”.
Deg ..!,Wanda terlihat kaget dan terdiam sejenak mendengar jawaban noni.”o....! jadi karena itu”. Mata wanda terlihat memerah menahan tangisan.
“Ya ,ekarang lo puas !”.Kata noni yang langsung pergi meninggalkan wanda sambil mengeluarkan air mata yang dari tadi ingin di keuarkanya.
Wanda masih terlihat kaget dan masih diam.
Noni berlari menuju lapang olah raga sambil mengelap air matanya.
“Itu noni!”. Ucap lulu sambil menunjuk ke arah noni.
“Non ko lama banget ke airnya, jangan jangan lo tidur ya ?”. Ucap mia jail.
Noni hanya tersenyum.,sesil memperhatikan wajah noni,
“Kamu habis nangis ya non?”. Ceplos sesil dan yanng lain pun langsung menatap wajah noni.
“Kagak, emang keliatan abis nangis gitu ?”.Kata noni seperti yang tak terjadi apa apa
“ya,soalnya mata loe keliatan merah sih!”. Ucap sesil .
“Tadi gwa kelilipan jadinya mata gwa merah kayak gini”. Kata noni sambil tersenyum.
“o.........!”.Kata sesil singkat, dan merekapun langsug melanjutkan perbincangannya tanpa menghiraukan kembali mata noni. Beberapa menit kemudian noni bertanya pada sesil.
“Sil lo bener bener suka ya sama wanda ?”.Tanya noni pelan.
“Yups, gwa suka pada pandangan pertama,”. Jawab sesil sambil tertawa kecil,
“O.........!
“Kenapa ?”
“Gak kenapa napa ko!”.Ucap noni sambil tersenyum.
“Loh kok ?”.Sesil terlihat bingung. Cukup lama mereka biristirahat bel masuk telah berbunyi.
“Bel udah bunyi tuh, masuk yuk !”. ucap noni .
Mereka pun pergi menuju kelasnya, Sesil terlihat bahagia sedangkan noni terlihat murung dan semangat belajarnya menghilang.
13.45 tandanya kegiatan belajar telah selesai dan murid muridpun berhamburan keluar sekolah untuk pulang kerumahnya masing masing.
“Gwa deg degan”. Ucap sesil sambil memasukan buku pelajaran ke dalam tasnya.
“Semangat sesil”. Ucap mia .
“Kita bakalan nemeni lo ko ya kan non!”. Kata lulu sambil melihat noni yang hanya tersenyum melihatnya.
“Apa yang harus aku lakukan ?”. ucap noni dalam hati.
“Ya udah kita langsung ketaman aja !”. Ajak lulu pada sesil dan yang lainya, dan merekapun langsung pergi ,karena jaraknya tak terlalu jauh merekapun telah sampai di taman.
“Guys gwa rapi gak ? Gwa grogi ni !”. Ucap sesil yang tak bisa diam.
“Sip, tenang aja kita bakalan ada nemeni lo,”.ucap mia menenangkan sesil.
“Eh wanda udah dateng tuh”.Ucap lulu dan pandangan merekapun menuju wanda begitupula pandangan noni.
“Ya tuhan kuatkan hati hamba!”kata noni dalam hati.
“Sil bururan pergi!”. kata lulu sambil mendorong sesil.
Sesilpun pergi menemui wanda, dan akhirnya mereka berdua bertemu.
“Hai wan ?”.Ucap noni mendahului pembicaraan.
Wanda tersenyum jutek,”Lo mau ngomong apa ma gwa?”. Ucap wanda sambil melihat keadaan sekitar ,secara tidak di sengaja wanda melihat noni dan yang lain sedang memperhatikan mereka di dekat semak semak yang jaraknya tak jauh dari air mancur. Noni dan yang lainya terlihat kaget dan merekapun bersembunyi kecuali noni yang masih kaget tapi lulu langsung menarik noni untuk bersembunyi.
“Kenapa wan ?”.Tanya sesil.
“Ah gak apa apa”. Jawab wanda sambil tersenyum dan tiba tiba sikap wanda menjadi berubah yang tadinya jutek sekarang jadi ramah.”Tadi lo mau ngomong apa ya ?”.Tanya wanda sambil trsenyum pada sesil.
“wanda ganteng banget pa lagi kalo senyum!” ucap sesil dalam hati.
“Hei, ko ngelamun gitu?” ucap wanda sambil melambaikan tangannya di depan wajah sesil.
“O ...!, sory sory, ini gwa, emmmm !!!!!”
“Gwa suka ama lo !”.Ucap wanda tanpa basa basi.
Sesil terkaget,”Serius lo suka ama gwa !
“Ya!”Ucap wanda singkat yang langsung memeluk sesil.”Noni maafin gwa tapi gwa juga gak mau sakit ati Cuma gara gara lo!”.ucap wanda dalam hati.
Di sebrang sana terlihat mia, lulu bahagia sedangkan noni terlihat sedih.
“Sesil di peluk !”.Kata lulu gembira pada mia.
“kenapa gwa jadi lemes gini ! kenapa tulang di kaki gwa terasa hilang,kenapa mata gwa jadi terasa panas gini, kenapa ???”.ucap noni dalam hati dengan keadaan mata yang berkaca kaca. Tiba tiba noni berlari meninggalkan mereka,
“Lu noni mau kemana tu ?”.Tanya mia pada lulu.
“Ya mana gwa tau!”.
“Kejar yuk “.Ajak mia yang langsung lari mengejar noni laludi ikuti lulu.
“Noni kemana mi?”.Tanya lulu sambil melihat keadaan sekitar mencari cari noni.
“Gak tau, gwa sms aja ya !”.Saat mia mengambil ponsel dari dalam tasnya tiba tiba ponselnya berbunyi dan di lihat noni mengirimkan pesan.
“mi, sory gwa pulang duluan coz gwa sakit perut.”
“ok gak apa apa ko.”nanti gwa kesana y.
“Noni pulang duluan katanya dia sakkit perut”.Ucap mia.
“ko lo tau ?”.
“Barusan dia sms gwa.”
“O.....! tinggal kita berdua dong !,makan yuk gwa laper ni.”
“Ok !!!”.
Di tempat yang berbeda noni sedang menangis sambil duduk lemas.
“kenapa hati ini sakit, padahal seharusnya gwa senenng dengan semuanya, kenapa, kenapa ?”.Noni menaik napas panjang sambil mengelap air mata yang tak henti mangalir di matanya.
“Noni , sebentar lagi lo ujian dan setelah lulus lo bisa pergi keluar kota dan tak melihat mereka lagi, tenang dan terus semangat”. Ucap noni sambil menyemangati dirinya sendiri.
MUNGKIN CINTA MATI
Cewe aneh itu mengintip dari balik bukunya di bangku taman sekolah yang
menghadap ke lapang basket. seseorang yang bermain di lapang basket itu
bermain sangat cantik. para wanita memujanya dengan meneriakkan namanya.
tiba-tiba
"hayyooow" tak ada jawaban. lalu ernes melihat ke arah lapang basket itu.
"hmm, ryan lagi. gak ada bosennya ya elu ngeliatin dia. tiap hari ketemu juga"
"yee, biarin dong. dia kan pacar gue. lo kenapa ? sirik ?"
"haahaha ngapain gue sirik ? yah, emang sih elo berdua kalo pacaran mesra. tapi, kalo ga ada orang tau kalian pacaran ya buat apa sirik ?"
"yah, elo si harusnya sirik. kan elu ga punya pacar. lagian elo juga ga pernah jatuh cinta gue rasa"
"kata siapa ? gue pernah jatuh cinta. malah gue sekarang lagi jatuh cinta. lo ga kenal gue. jangan sok tau." lalu ernes lari meninggalkan puri.
di atap sebuah gedung, ernes marah besar.
"puurii !!! kapan lo ngerti perasaan gue ? lo kejam sama gue rii,lo kejam ! susah payah gue deketin loo nyari rau segala hal tentang elo. tapi, lo ga pernah paham perasaan gue rii. gue cinta sama lo puri". teriak ernes. hatinya hancur, karena ia menyadari bahwa puri tak mengerti perasaannya yang selama ini mencintainya.
sore hari puri datang ke rumah ernes. ia ingin bertemudengan ernes. ingin ngobrol dengan sahabatnya itu. tapi, ketika sampai disana ia melihat rumah ernes sepi. yang ada hanya puma kucing kesayangannya ernes. puri kecewa, tapi ia berkata
"mungkin ernes lagi ngunjungin oom erik dan tante nessa. kalo aku ganggunanti dia marah. sudah ahh aku pulang aja"
baru saja puri melajukan mobilnya, ernes turun dari taksi, ia berjalan dengan langkah gontai. bahkan tak memedulikan puma. lalu ia masuk rumah menguncu pintu, kemudian masuk kamar dan tertidur. ia tak mau memikirkan apapun sekarang.
keesokan harinya di sekolah, puri menemui ernes.
"nes, hari ini loo maen dong ke rumah gue. mau ada ryan. tapi gue takut sama bunda. loo maen yaa ?"
"ga bisa. gue ada janji sama ratna"
lalu ernes pergi tanpa pamit. puri melongo, melihat ernes dan ratna naik bus berdua.satu sisi ia bahagia karena ernes akhirnya jatuh cinta. tapi, di sisi lain ia kaget akan sikap ernes yang dingin.
tak lama kemudian setelah kejadian itu. merembak kabar bahwa ratna dan ernes jadian. karena itu hubungan antara ernes, puri dan ryan merenggang. ernes sudah tak pernah lagi main ke rumah puri. akibatnya puri jadi sering berantem dengan ryan.
"lo kenapa sih ? lo berubah, udah ga kocak kaya dulu. please rii, jangan bikin gue khawatir. gue ini pacar elo, gue berhak tau apa yang terjadi sama elo"
"gue juga ga tau apa yang terjadi. mungkin karena ernes punya pacar baru".
"hah ? sepenting itu ya dia dimata lo ? sampe kekhawatiran gue elo ga perhatiin. rii, dia itu baru jadian, wajar dong lupa daratan. kaya kita dulu" kata ryan menjelaskan pada pacarnya itu.
"iya gue tau itu yan, tapi ..."
"udahlah. ga usah dipikirin. selama ini semua masih wajar kita biarin aja. kita kan punya urusan masing-masing sayang. jadi jangan diganggu" kata ryan yang saat itu sangat menghibur puri. sehingga puri tak lagi memikirkan masalah ini.
suatu siang di sekolah. puri menghampiri ernes.
"nes liat. frame kacamata baru. dibeliin ryan lho. haha kemaren gue jalan-jalan sama dia. eh ternyata dia ngajak gue keoptik dan beli frame kacamata baru. oooohh ... so sweet banget deh pokoknya pacar gue itu"
"udah ceritanya ? kalo udah , gue mau pergi. makan sama ratna" kata ernes sangat dingin.
sakit sekali hati puri mendengarnya. dia sudah tak tahan lagi dengan sikap ernes.
"nes, lo kenapa sih ? gue punya salah apa sama lo ? sampe lo kaya gini sama gue. ngomong dong nes ! gue ga tahan kalo harus diginiin sama sahabat gue sendiri !"
air mata puri udh ga bisa dibendung lagi. ia menangis. tersedu-sedu. namun, ernes hanya menatapnya sedih. ia ingin sekali memeluk puri, cewe yang sangat dicintainya itu. tapi ketika ia akan memeluknya. datanglah ryan. memeluk puri dan membawanya pergi. sambil berkata pada ernes.
"LOO MASIH PUNYA URUSAN SAMA GUEE !!!!!"
sejak kejadian itu ernes tak pernah masuk sekolah. seharii.. dua hari ...
sampai seminggu kemudian ....
"ini ga mungkin ryan. dia ga mungkin ninggalin gue."
"sabar sayang. sekarang ayokita ke rumahnya" ajak ryan. membopong tubuh mungil puri yang lemah karena kaget.
di rumah ernes hanya ada tokoh warga, warga sekitar, guru-guru serta teman-teman. orang tue ernes adalah anak tunggal sehingga tak memiliki saudara. dan mereka telah meninggal sejak ernes balita. dan ernes dikirim ke panti asuhan. setelah dewasa, ernes diambil oleh bekas pembantu tante nessa dan oom erik, orangtua ernes. dan sejak pembantunya meninggal, akhirnya ernes benar-benar sebatang kara.
puri langsungmenghampiri jasad ernes.
"kenapa harus kaya gini nes ? kenapa harus di saat kita pecah ?"
"sayang udah. ikhlasin dia. biarin dia tenang. kamu harus berdoa agar dia diterima disisi tuhan yang maha kuasa.
ernes selesai dimakamkan. puri begitu lemas. hatinya hancur. hingga tak ada lagi air mata yang bisa ia keluarkan. tapi, ia terkejut. ketika tiba- tiba ada ratna menghampirinya.
"rii, gue minta maap sama lo. gue ngebohongin lo".
"bohong apa na ?"
"sebenernya ...."
kemudian lama mereka bicara. sekarang terungkaplah semuanya sekarang. ratna bukan pacar ernes. tapi, dia teman kecil ernes waktu di panti asuhan. ratna disini karena dia harus merawat ernes yang sakit. ernes terjangkit kancer tulang. ernes meninggal karena penyakititu.
"satu hal lagi yang harus lo tau ri, selama gue disini. dia selalu menangis kalo ada hal yang berhubungan sama lo. dia juga selalu bilang. dia akan selalu hidup selamanya demi puri. rasa cinta yang dimiliki dia buat lo itu besar bnanget."
"cinta ??? apa maksudnya na ?"
"cinta rii, lo inget waktu dia terakhir sekolah ? kalian berantem kan ? nah pas pulang ke rumah. dia ga mau makan. ga mau minum. karena dia liat lo nangis. dia merasa bersalah rii."
"ta tuhan ernes, kenapa lo ga pernah cerita sama gue "
"dan rii, yang paling menyakitkan adalah, sebelum dia meninggal dia nunggu elo. dia bilang lo sama dia punya ikatan batin. dia pasti datang. dan ketika dia benar-benar meninggal. dia tetap nungguin lo"
kemudian puri duduk bersimpuh dilantai
"maafin gue nes, andai gue tau ini semua. pasti ini ga akan kaya gini"
lalu ryan memeluk puri dengan erat.
"hayyooow" tak ada jawaban. lalu ernes melihat ke arah lapang basket itu.
"hmm, ryan lagi. gak ada bosennya ya elu ngeliatin dia. tiap hari ketemu juga"
"yee, biarin dong. dia kan pacar gue. lo kenapa ? sirik ?"
"haahaha ngapain gue sirik ? yah, emang sih elo berdua kalo pacaran mesra. tapi, kalo ga ada orang tau kalian pacaran ya buat apa sirik ?"
"yah, elo si harusnya sirik. kan elu ga punya pacar. lagian elo juga ga pernah jatuh cinta gue rasa"
"kata siapa ? gue pernah jatuh cinta. malah gue sekarang lagi jatuh cinta. lo ga kenal gue. jangan sok tau." lalu ernes lari meninggalkan puri.
di atap sebuah gedung, ernes marah besar.
"puurii !!! kapan lo ngerti perasaan gue ? lo kejam sama gue rii,lo kejam ! susah payah gue deketin loo nyari rau segala hal tentang elo. tapi, lo ga pernah paham perasaan gue rii. gue cinta sama lo puri". teriak ernes. hatinya hancur, karena ia menyadari bahwa puri tak mengerti perasaannya yang selama ini mencintainya.
sore hari puri datang ke rumah ernes. ia ingin bertemudengan ernes. ingin ngobrol dengan sahabatnya itu. tapi, ketika sampai disana ia melihat rumah ernes sepi. yang ada hanya puma kucing kesayangannya ernes. puri kecewa, tapi ia berkata
"mungkin ernes lagi ngunjungin oom erik dan tante nessa. kalo aku ganggunanti dia marah. sudah ahh aku pulang aja"
baru saja puri melajukan mobilnya, ernes turun dari taksi, ia berjalan dengan langkah gontai. bahkan tak memedulikan puma. lalu ia masuk rumah menguncu pintu, kemudian masuk kamar dan tertidur. ia tak mau memikirkan apapun sekarang.
keesokan harinya di sekolah, puri menemui ernes.
"nes, hari ini loo maen dong ke rumah gue. mau ada ryan. tapi gue takut sama bunda. loo maen yaa ?"
"ga bisa. gue ada janji sama ratna"
lalu ernes pergi tanpa pamit. puri melongo, melihat ernes dan ratna naik bus berdua.satu sisi ia bahagia karena ernes akhirnya jatuh cinta. tapi, di sisi lain ia kaget akan sikap ernes yang dingin.
tak lama kemudian setelah kejadian itu. merembak kabar bahwa ratna dan ernes jadian. karena itu hubungan antara ernes, puri dan ryan merenggang. ernes sudah tak pernah lagi main ke rumah puri. akibatnya puri jadi sering berantem dengan ryan.
"lo kenapa sih ? lo berubah, udah ga kocak kaya dulu. please rii, jangan bikin gue khawatir. gue ini pacar elo, gue berhak tau apa yang terjadi sama elo"
"gue juga ga tau apa yang terjadi. mungkin karena ernes punya pacar baru".
"hah ? sepenting itu ya dia dimata lo ? sampe kekhawatiran gue elo ga perhatiin. rii, dia itu baru jadian, wajar dong lupa daratan. kaya kita dulu" kata ryan menjelaskan pada pacarnya itu.
"iya gue tau itu yan, tapi ..."
"udahlah. ga usah dipikirin. selama ini semua masih wajar kita biarin aja. kita kan punya urusan masing-masing sayang. jadi jangan diganggu" kata ryan yang saat itu sangat menghibur puri. sehingga puri tak lagi memikirkan masalah ini.
suatu siang di sekolah. puri menghampiri ernes.
"nes liat. frame kacamata baru. dibeliin ryan lho. haha kemaren gue jalan-jalan sama dia. eh ternyata dia ngajak gue keoptik dan beli frame kacamata baru. oooohh ... so sweet banget deh pokoknya pacar gue itu"
"udah ceritanya ? kalo udah , gue mau pergi. makan sama ratna" kata ernes sangat dingin.
sakit sekali hati puri mendengarnya. dia sudah tak tahan lagi dengan sikap ernes.
"nes, lo kenapa sih ? gue punya salah apa sama lo ? sampe lo kaya gini sama gue. ngomong dong nes ! gue ga tahan kalo harus diginiin sama sahabat gue sendiri !"
air mata puri udh ga bisa dibendung lagi. ia menangis. tersedu-sedu. namun, ernes hanya menatapnya sedih. ia ingin sekali memeluk puri, cewe yang sangat dicintainya itu. tapi ketika ia akan memeluknya. datanglah ryan. memeluk puri dan membawanya pergi. sambil berkata pada ernes.
"LOO MASIH PUNYA URUSAN SAMA GUEE !!!!!"
sejak kejadian itu ernes tak pernah masuk sekolah. seharii.. dua hari ...
sampai seminggu kemudian ....
"ini ga mungkin ryan. dia ga mungkin ninggalin gue."
"sabar sayang. sekarang ayokita ke rumahnya" ajak ryan. membopong tubuh mungil puri yang lemah karena kaget.
di rumah ernes hanya ada tokoh warga, warga sekitar, guru-guru serta teman-teman. orang tue ernes adalah anak tunggal sehingga tak memiliki saudara. dan mereka telah meninggal sejak ernes balita. dan ernes dikirim ke panti asuhan. setelah dewasa, ernes diambil oleh bekas pembantu tante nessa dan oom erik, orangtua ernes. dan sejak pembantunya meninggal, akhirnya ernes benar-benar sebatang kara.
puri langsungmenghampiri jasad ernes.
"kenapa harus kaya gini nes ? kenapa harus di saat kita pecah ?"
"sayang udah. ikhlasin dia. biarin dia tenang. kamu harus berdoa agar dia diterima disisi tuhan yang maha kuasa.
ernes selesai dimakamkan. puri begitu lemas. hatinya hancur. hingga tak ada lagi air mata yang bisa ia keluarkan. tapi, ia terkejut. ketika tiba- tiba ada ratna menghampirinya.
"rii, gue minta maap sama lo. gue ngebohongin lo".
"bohong apa na ?"
"sebenernya ...."
kemudian lama mereka bicara. sekarang terungkaplah semuanya sekarang. ratna bukan pacar ernes. tapi, dia teman kecil ernes waktu di panti asuhan. ratna disini karena dia harus merawat ernes yang sakit. ernes terjangkit kancer tulang. ernes meninggal karena penyakititu.
"satu hal lagi yang harus lo tau ri, selama gue disini. dia selalu menangis kalo ada hal yang berhubungan sama lo. dia juga selalu bilang. dia akan selalu hidup selamanya demi puri. rasa cinta yang dimiliki dia buat lo itu besar bnanget."
"cinta ??? apa maksudnya na ?"
"cinta rii, lo inget waktu dia terakhir sekolah ? kalian berantem kan ? nah pas pulang ke rumah. dia ga mau makan. ga mau minum. karena dia liat lo nangis. dia merasa bersalah rii."
"ta tuhan ernes, kenapa lo ga pernah cerita sama gue "
"dan rii, yang paling menyakitkan adalah, sebelum dia meninggal dia nunggu elo. dia bilang lo sama dia punya ikatan batin. dia pasti datang. dan ketika dia benar-benar meninggal. dia tetap nungguin lo"
kemudian puri duduk bersimpuh dilantai
"maafin gue nes, andai gue tau ini semua. pasti ini ga akan kaya gini"
lalu ryan memeluk puri dengan erat.
Kebahagiaan Cinta
Sekitar jam setengah satu pagi, aku tidak bisa tidur. Aku masih heran
dengan ucapan Rangga tadi. Tiba-tiba Rangga datang ke rumahku dan
menyatakan perasaannya. Rangga, cowok populer satu itu kenapa bisa
menyatakan perasaannya padaku? Pada cewek yang terisolasi dari
sekolahannya ini? pada cewek yang tidak pernah dianggap ada di
sekolahannya ini?. Aku terus memikirkan itu.
Besoknya tiba-tiba Rangga menhapiriku di kelas. Dia memang mengobrol dengan teman-temannya tapi, matanya itu... selalu tertuju padaku. Dan itu membuat aku.. gugup. Khanza, sahabatku pun, menenangkanku. Kemudian Rangga menghampiriku. “Jawabannya udah, Res?” tanya Rangga. Aku diam menatapnya. Kemudian aku menundukkan kepalaku, takut.
“Mau ya, Res? Fares?” tanya Rangga lagi. Khanza menyenggol-nyenggolku. Aku bingung kemudian aku berdiri dan bilang pada Rangga, “tunggu nanti di taman sekolah. Udah sono lo pergi!”. Kemudian Rangga pergi sambil menyunggingkan senyuman dibibirnya.
Pulang sekolah aku dan Khanza pergi ke taman menemui Rangga. Kulihat Rangga sudah duduk menungguku. Aku semakin gugup. Kemudian aku menghampiri Rangga.
“Kenapa lo nembak gue?” tanyaku gugup,
“Karna gue suka sama lo”, aku menatap kaget Rangga. Kaget dengan jawaban Rangga itu. Kulihat Rangga hanya tersenyum padaku.
“Gue kan nggak populer, Ga. Masih banyak cewek-cewek cantik yang suka sama lo” ucapku lagi. Khanza mengiyakan.
“Tapi gue sukanya sama lo dan gue mau lo jadi pacar gue!” sahut Rangga tegas. Entah mengapa aku begitu bodoh kala itu. Tiba-tiba saja aku bilang iya pada Rangga. Apa mungkin karena aku ketakutan sampai bertindak bodoh seperti ini? padahal aku tau, menjadi pacar Rangga, sama saja menjadi putri bagi pangeran. Pasti banyak cewek-cewek yang akan mencabik-cabikku.
Benar saja dugaanku, ternyata berita aku pacaran dengan rangga sudah tersebar seantero sekolahan. Cewek-cewek memandang sinis kearahku. Aku pun tidak berani keluar kelas karena itu. Padahal, di dalam kelas pun aku sudah muak mendengar sindiran teman-temanku. Ingin rasanya aku keluar dari sekolah ini.
Tiba-tiba geng Black Devil, geng yang anggotanya cewek-cewek cantik nan seksi itu menghampiriku. Bunga, ketua geng itu menggebuk mejaku. “Dasar cewek nggak tau diri! Udah jelek belagu lagi! Lo kan tau siapa yang berhak dapetin Rangga! Lo pasti mandi kembang empatbelas rupa buat nyihir Rangga kan! Lo pasti main dukun! Cuihh!” bentaknya sambil meludah. Aku tidak terima dengan bentakan itu. Kemudian tanpa kusadari, aku menggebuk meja juga. Daripada malu karena sudah menggebuk meja, akhirnya aku membentak Bunga ganti.
“Gue nggak pernah ke dukun ya! Rangga yang nyatain perasaannya ke gue duluan! Gue juga nggak percaya dengan apa yang dilakuin tuh orang! Dan gue sebenernya nggak tertarik dengan ucapan Rangga karena gue tau cuma lo yang bisa dapetin Rangga! Tapi gue pikir, its time for chage! So, gue terima dia” bentakku ganti dan pergi meninggalkan kelas. Aku yakin pasti Khanza kaget dengan ucapanku.
Saat akan keluar kelas, aku melihat Rangga menatapku dalam. Kubalas tatapan Rangga dengan tatapan sebal dan benci. Dasar cowok! Kenapa dia nggak ngebantu gue ngadepin Bunga?! Ucapku dalam hati.
Keluar toilet, tiba-tiba Aldo, salah satu teman Rangga mendatangiku.
“Gue surprise banget sama ucapan lo tadi waktu ngebentak bunga. Semoga nantinya lo kuat saat tau yang sebenernya ya” ucap Aldo tersenyum kemudian pergi meninggalkanku. Aku diam dengan tanda tanya besar dikepala. Apa maksud perkataan Aldo itu?
Setelah tiga bulan berpacaran dengan Rangga, aku semakin terbiasa dengan keadaan. Cewek-cewek juga terlihat sudah cuek dengan hubunganku dengan Rangga. Walaupun masih ada yang suka menyindirku, tapi Rangga bilang cuek saja dengan hal itu. Black Devil juga sudah tidak pernah menyindirku lagi. Yah, walaupun mereka terutama Bunga masih suka deketin Rangga, tapi biarlah. Rangga memang cowok populer yang pantas dideketin sama cewek populer juga.
Malam itu, Rangga datang ke rumahku. Aku yang sedang belajar, kaget saat Mama bilang ada Rangga. Dengan hanya mengenakan celana pendek dan baju bergambar doraemon, buru-buru aku turun kebawah, ke ruang tamu. Kemudianku sapa Rangga yang sedang duduk. Rangga menatapku sejenak, kemudian disapanya aku balik. “Pergi yuk! Gue lagi suntuk nih” ucap Rangga. Aku menggeleng dengan alasan ingin belajar. “Udahlah, belajar kan bisa entar-entar. Gue tunggu empat puluh lima menit dari sekarang! Cepet!” ucap Rangga kemudian dan menyuruhku ganti baju. Aku pun akhirnya menuruti.
Sesuai janji, empat puluh lima menit kemudian aku turun dari kamar dengan menggunakan dress berwarna krem ungu seatas dengkul tapi tetap dengan sepatu kets unguku. Sebenarnya bajuku ini ku sesuaikan dengan baju dalaman Rangga yang berwarna krem dan blazer coklatnya Rangga. Kemudian kuhampiri Rangga yang menatap padaku. Aku tidak mengerti kenapa dia menatapku seperti itu. Ku goyang-goyangkan tanganku kekanan dan kekiri tepat didepan wajah Rangga. Kemudian Rangga sadar dan bilang, “lo cantik, Fares. Kenapa gue nggak dari dulu sadar ya? Hehe. Ayo!”. Kemudian aku dan Rangga pergi dinner malam itu.
Setelah dinner Rangga mengajakku ke tempat seperti sebuah taman. Tapi kulihat jarang ada orang di taman itu. Kemudian Ranga menyuruhku duduk dibangku dekat lampu taman. Remang-remang aku melihat wajah Rangga yang terlihat gugup. Kenapa dia? Tanyaku dalam hati.
Kemudian saat kami berdua sedang mengobrol, tiba-tiba Rangga menggenggam tanganku. Aku sudah pasti gugup. Jantungku berdetak cepat dari biasanya. Kami berdua saling pandang. Kemudian Rangga semakin mendekat denganku. Dipeluknya tubuhku ini. aku juga bisa merasakan detak jantung Rangga. Jantung itu sama sepertiku, berdetak dengan cepat. Setelah memelukku, kemudian Rangga mencium keningku. Seumur-umur aku belum pernah dilakukan seperti ini. rangga adalah cowok pertamaku. Cowok pertama yang menciumku. Kemudian didekatkannya wajah Rangga ke telingaku. Lalu dia berkata, “gue suka sama lo, Res. Lebih dari suka bahkan”, Rangga kemudian tersenyum dan memelukku lagi. Aku kaget tak percaya.
Ucapan Rangga tadi malem benar-benar buat aku jadi senyum-senyum sendiri. Aku seperti orang gila! Apa mungkin aku mulai jatuh cinta? Sama Rangga? Cowok populer itu? Apa mungkin ucapannya tadi malam sungguhan? Tanyaku dalam hati. Khanza tiba-tiba bertanya, “lo kenapa sih, Res? Dari tadi gue perhatiin... senyum-senyum sendiri?”. “Gue lagi jatuh cinta, Za” jawabku sambil senyum-senyum. “Sama Rangga? Nggak mungkin! Dia Cuma mainin elo doang tau! Sadarrr!!!!!” teriak Khanza kemudian. Teman-teman yang lainnya lantas menatap kesal kearah aku dan Khanza.
Kutarik Khanza keluar kelas. Kami pun ke kantin. Disana aku mulai menjelaskan semuanya. “Pertamanya gue juga mikir Rangga cuma main-main, Za. Tapi liat, udah tiga bulan lebih gue sama dia sekarang. Gue kira pasti cuma dua hari gitu. Kejadian tadi malem, bener-bener buat gue yakin kalo Rangga beneran sama gue, Za. Dia pasti serius sama gue” ucapku panjang-lebar. Khanza kemudian menarik nafas. “Terserah lo deh, Res. Mungkin menurut lo ini yang terbaik. Yah, semoga aja pemikiran lo itu bener. Rangga serius dengan lo! Eh tapi, kalo kenyataannya sebaliknya, lo nggak boleh down dan harus terima semuanya, oke?” sahut Khanza kemudian. Aku mengangguk menjawab sahutan Khanza. Kemudian aku memeluk senang sahabatku itu.
Seminggu kemudian, aku dan Rangga semakin dekat dan semakin sering keluar. Sekedar ke toko buku atau jalan-jalan. Hingga pada pagi itu, sekitar jam 10 pagi, aku kebelet buang air kecil. Aku pun berlari secepat mungkin agar cepat sampai ke toilet. Terdengar suara Rangga di salah satu kelas. Aku pun berhenti berari dan melihat Rangga dan teman-temannya.
“Ga, lo udah berhasil naklukin Fares selama tiga bulan! Lo juga udah dapet duit imbalan kan? Enak jadi lo, Ga! Tapi kenapa lo mau terus-terus deket sama dia? Sama cewek jelek kayak dia! Ini Cuma taruhan, Ga! Dan lo udah menangin taruhan itu. Masih banyak kan cewek cantik lainnya dari pada dia? Bunga contohnya, yang udah bener-bener ngejar lo gitu. Kenapa pake acara seminggu lo deket sama dia, Ga? Sedeng lo!” ucap salah satu temannya Rangga saat itu. Aku lihat ada Aldo juga disana. Aku benar-benar terkejut dengan ucapan itu. Taruhan?! Aku hanya dijadikan taruhan oleh Rangga dan teman-temannya?! Dasar! Semuanya biadap! Teriakku dalam hati.
Kemudian aku berlari balik ke dalam kelas dan mengambil tasku. Tidak peduli ada guru saat itu juga. Air mata sudah mengalir dipipiku. Hatiku benar-benar sakit. Omongan Khanza benar, Rangga tidak akan pernah suka padaku. Kenapa aku bodoh begini?! Cinta benar-benar membuat orang gila! Ucapku dalam hati.
Dua hari ini aku tidak berangkat kesekolah. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Mama, jadi Mama pun memaklumi. Kemarin Khanza juga sudah datang ke rumah. Menanyakan kenapa aku nekad mengambil tas lalu pulang padahal masih ada guru. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Khanza. Khanza hanya menyemangatiku. Aku tidak bisa memegang janjiku pada Khanza. Aku tidak bisa kalau tidak down begini. Hatiku benar-benar sakit mendengar dengan kuping sendiri kalau aku hanya dijadikan permainan orang-orang saja. Aku sedih dan terpuruk.
Malamnya tiba-tiba saja Mama bilang ada yang mencariku. Tadinya aku tidak mau turun dan menumuin orang itu, tapi karna Mama memaksa, akhirnya aku turun dengan mata bengkak karena menangis. Lelaki itu membelakangiku. Saat kusapa, ternyata... Aldo?
“Ngapain kesini?!” tanyaku ketus. “Gue kesini nggak disuruh Rangga kok. Gue kesini ya mau jelasin semuanya ke elo, Res. Gue tau kalo lo udah tau semuanya” jawab Aldo tenang. “Tau kalo gue cuma jadi bahan taruhan?” tanya gue kemudian. Aldo hanya mengangguk malu. Ingin sekali aku mencekik cowok di depanku ini. karena bagaimanapun juga, dia ikut andil dalam taruhan ini. karena kulihat saat itu, dia ada disana.
“Kita emang jadiin lo bahan taruhan, Res. Kita semua minta maap karena itu. Kita jadiin lo bahan taruhan ya.. karna lo itu lugu. Jadi pasti gampang mengaruhinya, Res. Tiga bulan, Res. Cuma tiga bulan kita nyuruh Rangga deketin elo tapi.. lo tau sendiri kan? Tiga bulan lebih Rangga malah deketin lo terus. Ya, walau belum dapet penjelasan dari Rangga.. tapi gue yakin dia mulai suka sama lo, Res. Dia suka serius sama lo!” jelas Aldo menatapku. Aku terdiam. Memikirkan ucapan Aldo itu.
“Nggak! Gue udah nggak yakin lagi! Gue nggak percaya ucapan lo, Do! Lo sama aja kayak cowok lainnya dan Rangga! Gue nggak bisa percaya elo!” teriakku kemudian berlari ke kamar dan meninggalkan Aldo.
Besoknya pun aku kembali ke sekolah. Sebelum sampai kelas, tiba-tiba geng Black Devil menghampiriku. Mereka semua kemudian tertawa. “nggak mungkin Rangga beneran suka sama lo, kampung!” ucap Bunga kemudian pergi diikuti teman-temannya. Aku langsung berlari ke kelas. Aku terus menahan air mata yang mulai menetes, tapi usahaku gagal. Air mata itu menetes juga. Aku benar-benar bodoh!
Pulang sekolah, entah kenapa langkah kakiku malah pergi ke taman dulu Rangga mengajakku. Aku hanya ingin sendiri. Dan kurasa, taman ini cocok untuk hatiku. Tempat yang tenang dan damai. Aku juga duduk di bangku yang sama seperti dulu saat aku berdua dengan Rangga. Tiba-tiba teringat hari itu lagi. Dimana saat Rangga mengucapkan kata itu. Sekarang semua sirna. Ternyata ucapan itu hanya pura-pura. Rangga, cowok itu... harusnya aku sadar...
Sampai sore aku hanya duduk dibangku dekat lampu taman. Memandang kosong ke depan. “Bukan maksud gue begitu, Res”, tiba-tiba ucapan itu membuyarkan lamunanku. Aku pun menengok kesamping. Kulihat Rangga duduk disampingku sambil memandang kearah depan juga. Kemudian aku ikut memandang kearah depan juga. Air mataku mulai menetes. Ingat perkataan temannya Rangga waktu itu. Saat aku hanya dijadikan bahan taruhan.
“Kenapa lo jahat banget sih, Ga! Gue tau, gue emang cewek lugu yang nggak ngerti apa-apa malah lo itu pacar pertama gue! Tapi.. seenggaknya lo mikir perasaan gue dong! Kata-kata sayang itu.. kata-kata itu.. ternyata hanyalah kiasan! Ternyata lo nggak bener suka apalagi sayang sama gue. Tapi thanks karna dengan itu.. gue belajar buat nggak cepet kemakan dengan ucapan bullshit cowok!” ucapku. Rangga kemudian menggenggam tanganku. Dihadapkannya aku pada dirinya.
“Gue salah, Res. Malah karna taruhan itu.. emm.. gue.. gue.. beneran suka.. sama.. sama.. lo. Ini sungguhan, Res! Ini perasaan gue sama lo! Karena taruhan itu gue su.. gue suka sama lo! Maap karena kebodohan gue udah bohongin lo, Res. Gue bener-bener minta maap tentang taruhan itu, Res. Sekarang.. gue bener-bener jatuh cinta sama lo” jelas Rangga. Aku hanya melihat wajah cowok itu. Kali ini aku yakin, Rangga benar-benar mengucapkan dari hati. Aku melihat ketulusan di wajah tampan Rangga itu.
“Fares, gue sayang sama lo” ucap Rangg lagi kemudian memelukku. Memeluk eratku seakan tidak mau melepaskannya. Entah kenapa, aku merasa nyaman dengan pelukan itu. Tiba-tiba aku membalas pelukan itu. Aku benar-benar yakin.. Rangga menyayangiku sebagai pacarnya. Aku juga sayang sama kamu, Ga. Ucapku dalam hati kemudian tersenyum.
Besoknya tiba-tiba Rangga menhapiriku di kelas. Dia memang mengobrol dengan teman-temannya tapi, matanya itu... selalu tertuju padaku. Dan itu membuat aku.. gugup. Khanza, sahabatku pun, menenangkanku. Kemudian Rangga menghampiriku. “Jawabannya udah, Res?” tanya Rangga. Aku diam menatapnya. Kemudian aku menundukkan kepalaku, takut.
“Mau ya, Res? Fares?” tanya Rangga lagi. Khanza menyenggol-nyenggolku. Aku bingung kemudian aku berdiri dan bilang pada Rangga, “tunggu nanti di taman sekolah. Udah sono lo pergi!”. Kemudian Rangga pergi sambil menyunggingkan senyuman dibibirnya.
Pulang sekolah aku dan Khanza pergi ke taman menemui Rangga. Kulihat Rangga sudah duduk menungguku. Aku semakin gugup. Kemudian aku menghampiri Rangga.
“Kenapa lo nembak gue?” tanyaku gugup,
“Karna gue suka sama lo”, aku menatap kaget Rangga. Kaget dengan jawaban Rangga itu. Kulihat Rangga hanya tersenyum padaku.
“Gue kan nggak populer, Ga. Masih banyak cewek-cewek cantik yang suka sama lo” ucapku lagi. Khanza mengiyakan.
“Tapi gue sukanya sama lo dan gue mau lo jadi pacar gue!” sahut Rangga tegas. Entah mengapa aku begitu bodoh kala itu. Tiba-tiba saja aku bilang iya pada Rangga. Apa mungkin karena aku ketakutan sampai bertindak bodoh seperti ini? padahal aku tau, menjadi pacar Rangga, sama saja menjadi putri bagi pangeran. Pasti banyak cewek-cewek yang akan mencabik-cabikku.
Benar saja dugaanku, ternyata berita aku pacaran dengan rangga sudah tersebar seantero sekolahan. Cewek-cewek memandang sinis kearahku. Aku pun tidak berani keluar kelas karena itu. Padahal, di dalam kelas pun aku sudah muak mendengar sindiran teman-temanku. Ingin rasanya aku keluar dari sekolah ini.
Tiba-tiba geng Black Devil, geng yang anggotanya cewek-cewek cantik nan seksi itu menghampiriku. Bunga, ketua geng itu menggebuk mejaku. “Dasar cewek nggak tau diri! Udah jelek belagu lagi! Lo kan tau siapa yang berhak dapetin Rangga! Lo pasti mandi kembang empatbelas rupa buat nyihir Rangga kan! Lo pasti main dukun! Cuihh!” bentaknya sambil meludah. Aku tidak terima dengan bentakan itu. Kemudian tanpa kusadari, aku menggebuk meja juga. Daripada malu karena sudah menggebuk meja, akhirnya aku membentak Bunga ganti.
“Gue nggak pernah ke dukun ya! Rangga yang nyatain perasaannya ke gue duluan! Gue juga nggak percaya dengan apa yang dilakuin tuh orang! Dan gue sebenernya nggak tertarik dengan ucapan Rangga karena gue tau cuma lo yang bisa dapetin Rangga! Tapi gue pikir, its time for chage! So, gue terima dia” bentakku ganti dan pergi meninggalkan kelas. Aku yakin pasti Khanza kaget dengan ucapanku.
Saat akan keluar kelas, aku melihat Rangga menatapku dalam. Kubalas tatapan Rangga dengan tatapan sebal dan benci. Dasar cowok! Kenapa dia nggak ngebantu gue ngadepin Bunga?! Ucapku dalam hati.
Keluar toilet, tiba-tiba Aldo, salah satu teman Rangga mendatangiku.
“Gue surprise banget sama ucapan lo tadi waktu ngebentak bunga. Semoga nantinya lo kuat saat tau yang sebenernya ya” ucap Aldo tersenyum kemudian pergi meninggalkanku. Aku diam dengan tanda tanya besar dikepala. Apa maksud perkataan Aldo itu?
Setelah tiga bulan berpacaran dengan Rangga, aku semakin terbiasa dengan keadaan. Cewek-cewek juga terlihat sudah cuek dengan hubunganku dengan Rangga. Walaupun masih ada yang suka menyindirku, tapi Rangga bilang cuek saja dengan hal itu. Black Devil juga sudah tidak pernah menyindirku lagi. Yah, walaupun mereka terutama Bunga masih suka deketin Rangga, tapi biarlah. Rangga memang cowok populer yang pantas dideketin sama cewek populer juga.
Malam itu, Rangga datang ke rumahku. Aku yang sedang belajar, kaget saat Mama bilang ada Rangga. Dengan hanya mengenakan celana pendek dan baju bergambar doraemon, buru-buru aku turun kebawah, ke ruang tamu. Kemudianku sapa Rangga yang sedang duduk. Rangga menatapku sejenak, kemudian disapanya aku balik. “Pergi yuk! Gue lagi suntuk nih” ucap Rangga. Aku menggeleng dengan alasan ingin belajar. “Udahlah, belajar kan bisa entar-entar. Gue tunggu empat puluh lima menit dari sekarang! Cepet!” ucap Rangga kemudian dan menyuruhku ganti baju. Aku pun akhirnya menuruti.
Sesuai janji, empat puluh lima menit kemudian aku turun dari kamar dengan menggunakan dress berwarna krem ungu seatas dengkul tapi tetap dengan sepatu kets unguku. Sebenarnya bajuku ini ku sesuaikan dengan baju dalaman Rangga yang berwarna krem dan blazer coklatnya Rangga. Kemudian kuhampiri Rangga yang menatap padaku. Aku tidak mengerti kenapa dia menatapku seperti itu. Ku goyang-goyangkan tanganku kekanan dan kekiri tepat didepan wajah Rangga. Kemudian Rangga sadar dan bilang, “lo cantik, Fares. Kenapa gue nggak dari dulu sadar ya? Hehe. Ayo!”. Kemudian aku dan Rangga pergi dinner malam itu.
Setelah dinner Rangga mengajakku ke tempat seperti sebuah taman. Tapi kulihat jarang ada orang di taman itu. Kemudian Ranga menyuruhku duduk dibangku dekat lampu taman. Remang-remang aku melihat wajah Rangga yang terlihat gugup. Kenapa dia? Tanyaku dalam hati.
Kemudian saat kami berdua sedang mengobrol, tiba-tiba Rangga menggenggam tanganku. Aku sudah pasti gugup. Jantungku berdetak cepat dari biasanya. Kami berdua saling pandang. Kemudian Rangga semakin mendekat denganku. Dipeluknya tubuhku ini. aku juga bisa merasakan detak jantung Rangga. Jantung itu sama sepertiku, berdetak dengan cepat. Setelah memelukku, kemudian Rangga mencium keningku. Seumur-umur aku belum pernah dilakukan seperti ini. rangga adalah cowok pertamaku. Cowok pertama yang menciumku. Kemudian didekatkannya wajah Rangga ke telingaku. Lalu dia berkata, “gue suka sama lo, Res. Lebih dari suka bahkan”, Rangga kemudian tersenyum dan memelukku lagi. Aku kaget tak percaya.
Ucapan Rangga tadi malem benar-benar buat aku jadi senyum-senyum sendiri. Aku seperti orang gila! Apa mungkin aku mulai jatuh cinta? Sama Rangga? Cowok populer itu? Apa mungkin ucapannya tadi malam sungguhan? Tanyaku dalam hati. Khanza tiba-tiba bertanya, “lo kenapa sih, Res? Dari tadi gue perhatiin... senyum-senyum sendiri?”. “Gue lagi jatuh cinta, Za” jawabku sambil senyum-senyum. “Sama Rangga? Nggak mungkin! Dia Cuma mainin elo doang tau! Sadarrr!!!!!” teriak Khanza kemudian. Teman-teman yang lainnya lantas menatap kesal kearah aku dan Khanza.
Kutarik Khanza keluar kelas. Kami pun ke kantin. Disana aku mulai menjelaskan semuanya. “Pertamanya gue juga mikir Rangga cuma main-main, Za. Tapi liat, udah tiga bulan lebih gue sama dia sekarang. Gue kira pasti cuma dua hari gitu. Kejadian tadi malem, bener-bener buat gue yakin kalo Rangga beneran sama gue, Za. Dia pasti serius sama gue” ucapku panjang-lebar. Khanza kemudian menarik nafas. “Terserah lo deh, Res. Mungkin menurut lo ini yang terbaik. Yah, semoga aja pemikiran lo itu bener. Rangga serius dengan lo! Eh tapi, kalo kenyataannya sebaliknya, lo nggak boleh down dan harus terima semuanya, oke?” sahut Khanza kemudian. Aku mengangguk menjawab sahutan Khanza. Kemudian aku memeluk senang sahabatku itu.
Seminggu kemudian, aku dan Rangga semakin dekat dan semakin sering keluar. Sekedar ke toko buku atau jalan-jalan. Hingga pada pagi itu, sekitar jam 10 pagi, aku kebelet buang air kecil. Aku pun berlari secepat mungkin agar cepat sampai ke toilet. Terdengar suara Rangga di salah satu kelas. Aku pun berhenti berari dan melihat Rangga dan teman-temannya.
“Ga, lo udah berhasil naklukin Fares selama tiga bulan! Lo juga udah dapet duit imbalan kan? Enak jadi lo, Ga! Tapi kenapa lo mau terus-terus deket sama dia? Sama cewek jelek kayak dia! Ini Cuma taruhan, Ga! Dan lo udah menangin taruhan itu. Masih banyak kan cewek cantik lainnya dari pada dia? Bunga contohnya, yang udah bener-bener ngejar lo gitu. Kenapa pake acara seminggu lo deket sama dia, Ga? Sedeng lo!” ucap salah satu temannya Rangga saat itu. Aku lihat ada Aldo juga disana. Aku benar-benar terkejut dengan ucapan itu. Taruhan?! Aku hanya dijadikan taruhan oleh Rangga dan teman-temannya?! Dasar! Semuanya biadap! Teriakku dalam hati.
Kemudian aku berlari balik ke dalam kelas dan mengambil tasku. Tidak peduli ada guru saat itu juga. Air mata sudah mengalir dipipiku. Hatiku benar-benar sakit. Omongan Khanza benar, Rangga tidak akan pernah suka padaku. Kenapa aku bodoh begini?! Cinta benar-benar membuat orang gila! Ucapku dalam hati.
Dua hari ini aku tidak berangkat kesekolah. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Mama, jadi Mama pun memaklumi. Kemarin Khanza juga sudah datang ke rumah. Menanyakan kenapa aku nekad mengambil tas lalu pulang padahal masih ada guru. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Khanza. Khanza hanya menyemangatiku. Aku tidak bisa memegang janjiku pada Khanza. Aku tidak bisa kalau tidak down begini. Hatiku benar-benar sakit mendengar dengan kuping sendiri kalau aku hanya dijadikan permainan orang-orang saja. Aku sedih dan terpuruk.
Malamnya tiba-tiba saja Mama bilang ada yang mencariku. Tadinya aku tidak mau turun dan menumuin orang itu, tapi karna Mama memaksa, akhirnya aku turun dengan mata bengkak karena menangis. Lelaki itu membelakangiku. Saat kusapa, ternyata... Aldo?
“Ngapain kesini?!” tanyaku ketus. “Gue kesini nggak disuruh Rangga kok. Gue kesini ya mau jelasin semuanya ke elo, Res. Gue tau kalo lo udah tau semuanya” jawab Aldo tenang. “Tau kalo gue cuma jadi bahan taruhan?” tanya gue kemudian. Aldo hanya mengangguk malu. Ingin sekali aku mencekik cowok di depanku ini. karena bagaimanapun juga, dia ikut andil dalam taruhan ini. karena kulihat saat itu, dia ada disana.
“Kita emang jadiin lo bahan taruhan, Res. Kita semua minta maap karena itu. Kita jadiin lo bahan taruhan ya.. karna lo itu lugu. Jadi pasti gampang mengaruhinya, Res. Tiga bulan, Res. Cuma tiga bulan kita nyuruh Rangga deketin elo tapi.. lo tau sendiri kan? Tiga bulan lebih Rangga malah deketin lo terus. Ya, walau belum dapet penjelasan dari Rangga.. tapi gue yakin dia mulai suka sama lo, Res. Dia suka serius sama lo!” jelas Aldo menatapku. Aku terdiam. Memikirkan ucapan Aldo itu.
“Nggak! Gue udah nggak yakin lagi! Gue nggak percaya ucapan lo, Do! Lo sama aja kayak cowok lainnya dan Rangga! Gue nggak bisa percaya elo!” teriakku kemudian berlari ke kamar dan meninggalkan Aldo.
Besoknya pun aku kembali ke sekolah. Sebelum sampai kelas, tiba-tiba geng Black Devil menghampiriku. Mereka semua kemudian tertawa. “nggak mungkin Rangga beneran suka sama lo, kampung!” ucap Bunga kemudian pergi diikuti teman-temannya. Aku langsung berlari ke kelas. Aku terus menahan air mata yang mulai menetes, tapi usahaku gagal. Air mata itu menetes juga. Aku benar-benar bodoh!
Pulang sekolah, entah kenapa langkah kakiku malah pergi ke taman dulu Rangga mengajakku. Aku hanya ingin sendiri. Dan kurasa, taman ini cocok untuk hatiku. Tempat yang tenang dan damai. Aku juga duduk di bangku yang sama seperti dulu saat aku berdua dengan Rangga. Tiba-tiba teringat hari itu lagi. Dimana saat Rangga mengucapkan kata itu. Sekarang semua sirna. Ternyata ucapan itu hanya pura-pura. Rangga, cowok itu... harusnya aku sadar...
Sampai sore aku hanya duduk dibangku dekat lampu taman. Memandang kosong ke depan. “Bukan maksud gue begitu, Res”, tiba-tiba ucapan itu membuyarkan lamunanku. Aku pun menengok kesamping. Kulihat Rangga duduk disampingku sambil memandang kearah depan juga. Kemudian aku ikut memandang kearah depan juga. Air mataku mulai menetes. Ingat perkataan temannya Rangga waktu itu. Saat aku hanya dijadikan bahan taruhan.
“Kenapa lo jahat banget sih, Ga! Gue tau, gue emang cewek lugu yang nggak ngerti apa-apa malah lo itu pacar pertama gue! Tapi.. seenggaknya lo mikir perasaan gue dong! Kata-kata sayang itu.. kata-kata itu.. ternyata hanyalah kiasan! Ternyata lo nggak bener suka apalagi sayang sama gue. Tapi thanks karna dengan itu.. gue belajar buat nggak cepet kemakan dengan ucapan bullshit cowok!” ucapku. Rangga kemudian menggenggam tanganku. Dihadapkannya aku pada dirinya.
“Gue salah, Res. Malah karna taruhan itu.. emm.. gue.. gue.. beneran suka.. sama.. sama.. lo. Ini sungguhan, Res! Ini perasaan gue sama lo! Karena taruhan itu gue su.. gue suka sama lo! Maap karena kebodohan gue udah bohongin lo, Res. Gue bener-bener minta maap tentang taruhan itu, Res. Sekarang.. gue bener-bener jatuh cinta sama lo” jelas Rangga. Aku hanya melihat wajah cowok itu. Kali ini aku yakin, Rangga benar-benar mengucapkan dari hati. Aku melihat ketulusan di wajah tampan Rangga itu.
“Fares, gue sayang sama lo” ucap Rangg lagi kemudian memelukku. Memeluk eratku seakan tidak mau melepaskannya. Entah kenapa, aku merasa nyaman dengan pelukan itu. Tiba-tiba aku membalas pelukan itu. Aku benar-benar yakin.. Rangga menyayangiku sebagai pacarnya. Aku juga sayang sama kamu, Ga. Ucapku dalam hati kemudian tersenyum.
Langganan:
Postingan (Atom)

